Senin, 05 Maret 2012

Misa dalam Bahasa Latin dan Lagu-lagu Gregorian di Katedral BMV Bogor

Misa dalam bahasa Latin dan lagu-lagu Gregorian di Katedral BMV Bogor telah dilaksanakan beberapa kali sejak tahun 2010 yang lalu. Pada tahun 2010 ada satu kali misa yaitu pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam; tahun 2011 ada dua kali misa yaitu pada HR. Santa Maria Diangkat ke Surga, dan HR. Kristus Raja Semesta Alam; dan pada tahun 2012 ini direncanakan untuk diadakan sebanyak lima kali misa.

Pada Minggu 4 Maret 2012 yang lalu penyelenggaraan misa seperti itu telah dimulai lagi di Katedral. Misa ini bertepatan dengan Minggu Prapaskah II (Dominica II in Quadragesima). Perayaan Ekaristi dimulai pukul 11.00 dan dipersembahkan oleh Romo Dominiko Savio Tukiyo; sedangkan koor yang mengiringi adalah Koor Exultate. Secara umum perayaan Ekaristi berlangsung dengan lancar.

1 Pembuka G.R. Tibi Dixit

2 Kyrie PS. 339 Kyrie eleison

3 Mazmur Tanggapan G.S. Magna est Gloria eius

4 Bait Pengantar Injil G.S. Miserere nostri, Domine

5 Credo PS. 374 Credo

6 Doa Umat O.M. Domine, miserere

7 Persembahan G.R. Meditabor in Mandatis tuis

8 Prefasi O.M. Dominus Vobiscum

9 Sanctus PS. 385 Sanctus

10 Anamnesis G.R. Mysterium Christi

11 Doxologi O.M. Per ipsum, et cum ipso, et in ipso

12 Pater Noster PS. 403 Pater Noster (2)

13 Pemecahan Roti PS 406 Agnus Dei

14 Komuni 1 G.R. Visionem Quam Vidistis

15 Komuni 2 Teks Attende Domine

16 Madah Syukur L.O. 123 Iesu Nostra Redemptio

17 Pengutusan O.M. Ite, missa es; Deo gratias

18 Penutup PS. 626 Ave Regina Caelorum

Koor Exultate diiringi oleh Mbak Myrna (organis Koor Paroki BMV) dan juga dibantu oleh beberapa rekan dari Koor BMV Paroki. Semoga pengalaman Exultate berguna juga bagi banyak koor lainnya.

Selasa, 12 Juli 2011

ORGANIS GEREJA TAPI NON-KATHOLIK?

Atas munculnya pertanyaan tentang boleh tidaknya atau layak tidaknya seorang organis beragama non-Katholik yang membantu kita dalam perayaan Ekaristi, perkenankan kami mengutip apa yang tertulis dalam buku Pedoman untuk Nyanyian dan Musik dalam Ibadat – Dokumen Universa Laus.

Buku ini diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta pada tahun 1987 dengan terjemahan dan komentar-komentar yang ditulis oleh Rm Karl-Edmund Prier SJ.

Dalam bab VI ayat 5 ditulis demikian:

“Bermusik bersama berarti bahwa setiap peserta turut serta dengan sebaik mungkin. Maka tidak dapat dibayangkan bahwa seorang pemain musik yang bukan beragama Kristen Katholik atau yang sudah menjauh dari Gereja sungguh dapat menghasilkan musik ibadat. Ia hanya menyumbangkan bantuan teknis saja tanpa bersatu dengan umat beriman yang sedang beribadat. Begitu pula, umumnya para komponis akan semakin memenuhi kebutuhan ibadat umat bila mereka mengikuti ibadat, mendengarkan Sabda Tuhan serta menjawab kepada-Nya. Dengan demikian mereka sendiri akan semakin merasakan bagaimana umat dapat mengungkapkan.”

Komentar yang ditulis Romo Prier dalam dokumen tersebut adalah sebagai berikut:

“Pemain musik yang bukan beragama Kristen Katolik: Mudah terjadi bahwa kita minta tolong pada seorang pemain musik dari agama lain untuk memeriahkan ibadat pada hari raya. Kita beruntung karena musik ibadat kita dikagumi; dia pun beruntung karena dapat nama dan barang kali juga rejeki. Namun apakah perlu demikian? Mengapa tidak berani untuk bermusik seadanya saja bila memang tidak ada pemusik yang lihai? Sederhana, namun dengan usaha yang sebaik mungkin, itu bukan bertentangan dengan tuntutan Kitab Suci dan liturgi. Tentu saja mungin bahwa seseorang yang belum dibaptis (katekumen atau calon katekumen?) atas kemauannya sendiri ingin sekali mengungkapkan rasa simpatinya pada Gereja dengan membantu kita dalam pelaksanaan musik ibadat. Bila ia sudah tahu apa tugasnya dan urutan upacara, mengapa harus ditolak? Keanggotaan pada Gereja tidak tergantung dari surat baptis tetapi dari sikap di hati.”

Senin, 04 Juli 2011

Kenalilah Organ Pipa (Orgel)

Diambil dari tulisan Anthonius Bobby @ http://katedral.keuskupan-malang.web.id

Kedudukan dan Fungsi Organ

“Alat Musik dapat menjadi sangat bermanfaat dalam perayaan-perayaan Kudus, entah untuk mengiringi nyanyian, entah untuk dimainkan sendiri sebagai Instrumental Tunggal” (IML 62). Organ pipa (ORGEL) hendaknya dijunjung tinggi sebagai ALAT MUSIK TRADISIONAL GEREJA LATIN; suaranya mampu menyemarakkan upacara-upacara ibadat secara mengagumkan, dan dengan mantap mengangkat hati umat ke hadapan ALLAH dan alam Surgawi. (IML 62, KL 120).

Status Organis

“…para organist atau pemain musik lain didalam ibadat bukan hanya semata-mata oranng yang bisa memainkan alat musik. Mereka hendaknya juga mengikuti perayaan liturgi dengan penuh kesadaran, sehingga setiap memainkan alat musiknya secara spontan, mereka memperkaya perayaan kudus selaras dengan hakikat asli masing-masing bagian, dan mendorong partisipasi kaum beriman.” (IML 67)

Seorang Organist memanjatkan doa-doa dan pengantar persembahannya dalam ibadat lewat permainan organnya yang baikLatihan dan persiapannya pun merupakan doa-persiapan untuk merayakan ibadat bersama umat di hadirat ALLAH. Maka, sebaiknya organist adalah seorang beriman yang ikut dalam perayaan liturgi; atau sekurang-kurangnya dapat memahami perayaan liturgi yang bersangkutan.

Mengenal Organ

Organ Pipa / Organ Tabung

Organ Pipa atau yang kita kenal dengan nama Orgel adalah Organ yang suaranya dihasilkan oleh tiupan pada mulut tabung (pipa). Ada 2 macam pipa mulut tabung:

  1. Pipa Labial ( Seruling recorder ), yakni pipa yang ujungnya kosong. Pada pipa labial suara yang dihasilkan oleh getaran udara pada ‘bibir’ pipa ( bahasa latin: labiai )
  2. Pipa Lingual ( Trompette, Fagotte, Brass ), yakni pipa yang ujungnya ( bagian yang ditiup ) dilengkapi dengan ‘lidah’ ( bahasa latin: lingual ). Pada saat pipa ditiup, lidah ini bergetar dan menghasilkan suara yang kemudian diperkeras oleh pipa.

Pipa Labial mempunyai variasi suara yang lebih kaya daripada pipa lingual. Suara pipa lingual lebih keras dan lebih kasar daripada pipa labial. Biasanya, pipa lingual digunakan untuk permainan instrumental solo, dan jarang untuk mengiringi nyanyian umat, kecuali pada kesempatan tertentu, bila semua register yang lain dinilai kurang keras.

Organ Elektronik

Sejak abad XX orang menemukan organ elektronik, yaitu organ yang dihasilkan dari getaran elektronis yang diperkeras melalui amplifier dan Loudspeaker. Banyak orang menganggap bahwa suara organ pipa (Orgel) lebih alami dan menyentuh perasaan peribadatan. Maka gereja-gereja di Eropa yang semula mencoba organ elektronik, sesudah beberapa waktu kembali menggunakan Organ Pipa.

ORGAN YANG COCOK UNTUK GEREJA

Organ untuk Gereja idealnya adalah Organ Pipa. Tetapi, di Indonesia organ pipa hanya terdapat di beberapa tempat ( Misal: Katedral Jakarta, Katedral Bandung, Gereja St. Yusup-Gedangan, Semarang, Katedral Larantuka, Katedral Surabaya => tinggal pipanya saja ). Itupun jarang dipakai karena tidak banyak organis yang terbiasa dengan Organ pipa tersebut. Di Katedral Jakarta lumayan banyak, Bandung juga banyak organis yang bisa mainin organ pipa, Gedangan ada..dari Jogja..Surabaya gak ada. Larantuka ada, dikit..Organ elektronik yang dibuat khusus untuk gereja belum banyak karena pemasarannya tidak mudah, dan harganya mahal. Di DKI Jakarta gereja-gereja kebanyakan sudah mempunyai organ elektronik semacam orgel. Bandung juga, Jogja, Malang ada 2 yang punya, yaitu Katedral Idjen dan Novisiat Frater BHK. Maka kebanyakan organ yang ada di gereja-gereja di Indonesia adalah organ pop, yang sebenarnya berbeda dengan organ gereja. Organ pop memiliki 2 papan-nada ( keyboard ) yang tidak lengkap: a) Keyboard atas f – c”’, keyboard bawah, F – c”; b) tombol-tombol irama otomatis; c) pedal 1 – 1 1/2 oktaf. Sedangkan organ yang cocok untuk gereja memiliki: a) Keyboard lengkap 4 – 5 Oktaf; b) Pedal satu oktaf ( disebut pedal Spanyol ) atau pedal 2 – 2 1/2 oktaf.

Organist


Amatlah disayangkan; banyak sekali organist Gereja..terutama Gereja Katolik kurang mengerti untuk mengiringi lagu-lagu Liturgi Ekaristi. Hanya mungkin sedikit yang mengerti. Dalam hal pembelajarannya mungkin tidak mengambil basic secara klasik misalkan piano, sehingga memainkan organ di gereja sama juga memainkan organ untuk musik sekuler misalnya lagu pop. Kebanyakan lagu-lagu Liturgi dimainkan secara monoton, karena kurang menguasai achord, maupun kelincahan pedal. Haruslah Organist mengerti dan mau belajar untuk lebih serius agar pembawaan Lagu-lagu Liturgi benar-benar bagus dan menyentuh hati umat beriman. Meskipun Koor kurang begitu baik, namun bisa ditutupi dengan kemahiran organist, sehingga suasana Missa Kudus tidaklah hambar dan pada saat umat telah menerima Rahmat perutusan diberikan oleh Imam Pastor, umat bisa pulang dengan hati gembira. Memang benar, permainan organ yang baik dan pemilihan register (warna suara organ) yang tepat bisa membawa hati tenang dan damai bagi umat beriman.

Jumat, 03 Juni 2011

MENINJAU KEMBALI PAGUYUBAN DIRIGEN & ORGANIS PAROKI BMV

Pertemuan rutin Paguyuban Dirigen dan Organis Paroki BMV Katedral Bogor (PDO-BMV) telah memasuki tahun ke tiga. Ada banyak hal yang telah berhasil dibahas dalam pertemuan-pertemuan dan ditindaklanjuti dalam tugas-tugas pelayanan, namun juga ada banyak hal yang belum dapat dituntaskan. Dalam waktu dekat akan dilakukan refleksi dan evaluasi atas keberadaan PDO-BMV oleh Tim Musik Liturgi dari Seksi Liturgi Paroki BMV Katedral Bogor. Beberapa pertanyaan yang mengemuka antara lain:
  1. Apakah PDO-BMV masih dibutuhkan? (Jika tidak, tentu lebih baik dibubarkan saja)
  2. Jika masih dibutuhkan, apa yang seharusnya diperbarui? (Pengelolanya, isi pertemuannya, jadwal pertemuannya, nara sumbernya, aktivitasnya, dll.?)
Sebelum itu, ada baiknya kita membaca sekali lagi latar belakang pembentukan forum ini.

PAGUYUBAN DIRIGEN DAN ORGANIS

Menindaklanjuti acara rekoleksi tanggal 21 Mei 2009, pada Minggu 28 Juni 2009 diadakan pertemuan para dirigen dan organis. Pertemuan dihadiri oleh sekitar 15 orang dirigen dan organis, dipimpin oleh Bapak T. Marhadi dan didampingi oleh RD.D.S. Tukiyo. Dalam pertemuan tersebut Bapak T. Marhadi menjelaskan format kumpulan dirigen (yang diusulkan untuk disebut sebagai “Paguyupan Dirigen Paroki Katedral Bogor”) dengan dibentuk kepengurusan sebagai berikut:

Pelindung : RD Benyamin Sudarto (Pastor Paroki)

Penasihat : RD. D.S. Tukiyo, RD. Alfons Sebatu, RD Y. Monang Damanik

Pendamping : Bp M. Agus Muhardi (Ketua Seksi Liturgi)

Bp. Adrianus J. Wijaya (Sub Seksi Pembinaan)

Koordinator Umum : Thomas A. Sutadi

Koordinator Bidang Materi/Lagu : Antonius Bambang Koryanto

Koordinator Pembinaan/Pelatihan : Tarcisius Marhadi

Maksud dan Tujuan:

Paguyuban dimaksudkan sebagai wadah seluruh dirigen dan organis di Paroki Katedral Bogor, sebagai sarana agar mereka dapat berkomunikasi, menggalang kerja sama, saling membantu dan bertukar pengalaman antar kelompok koor.


Secara rinci, maksud dan tujuan dapat dijabarkan sebagai berikut:

  1. Menjadi wadah bertemunya para dirigen di Paroki Katedral secara resmi.
  2. Forum berbagi pengalaman (sharing) dan informasi tentang musik liturgi Gereja.
  3. Sumber bantuan bagi para dirigen dan seksi liturgi (lingkungan, wilayah, paroki, kategorial) yang memerlukan bantuan di bidang teknis musik, musik liturgi, dll.
  4. Wadah untuk berbagi kemampuan yang dapat disumbangkan bagi perkembangan musik liturgi di Paroki Katedral Bogor.

Tugas Pokok Pengurus Paguyuban antara lain:

  1. Pembinaan teknis bagi dirigen, calon dirigen, dan organis.
  2. Pembekalan liturgis bagi dirigen, calon dirigen, organis dan calon organis.
  3. Pembinaan Pemazmur
  4. Bimbingan/pelatihan kepada kelompok koor yang membutuhkan
  5. Membuat bank lagu liturgi
  6. Melaksanakan pertemuan rutin untuk dirigen dan organis

(1 Juli 2009 – Disarikan dari notulen yang disusun oleh Bapak T. Marhadi)


Prinsip dalam Forum Dirigen:

  1. Posisi semua dirigen dalam paguyuban ini adalah setara. Semua memiliki hak dan kewajiban yang sama.
  2. Semua dirigen memiliki komitmen untuk melestarikan musik liturgi Gereja dan mengembangkannya sedemikian rupa selaras dengan kaidah-kaidah liturgi Gereja Katolik.
  3. Paguyuban Dirigen memanfaatkan semua potensi yang ada di kalangan para dirigen. Misalnya, dirigen yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan khusus soal olah vokal dapat membagikan pengetahuan dan pengalamannya kepada dirigen yang lain dalam berlatih olah vokal atau melatih koor berolah vokal; dirigen yang pernah belajar di PML dapat membagikan pengalaman dan pengetahuannya selama menjani pelatihan di PML.
  4. Paguyuban Dirigen dapat mencari sumber belajar di luar Forum Dirigen, misalnya dari Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta, Komisi Liturgi KWI, Institut Liturgi Sang Kristus (ILSK) Bandung, para ahli liturgi/musik liturgi dari keuskupan lain, praktisi musik umum, dll.
  5. In pluribus unitas, in omnibus caritas.

Selasa, 01 Maret 2011

PERTEMUAN PDO-BMV 27 FEBRUARI 2011

Pada hari Minggu 27 Februari 2011 diadakan pertemuan Paguyuban Dirigen & Organis se-Paroki Katedral BMV. Pertemuan ini diselenggarakan dalam rangka mempersiapkan tugas-tugas koor Masa Prapaskah dan Pekan Suci 2011. Ketua Seksi Liturgi, Pastor Paroki, Bapak Marhadi dan Bapak Adrianus Wijaya berkenan hadir dan menyampaikan bahan-bahan yang berguna bagi para praktisi koor, khususnya para dirigen dan organis yang hadir.

Ketua Seksi Liturgi mengemukakan perlunya mengevaluasi tugas-tugas koor sebelumnya agar dapat memperbaikinya tahun ini. Dari berbagai masalah yang masih ada, Ketua Seksi Liturgi berpendapat bahwa para dirigen dan organis perlu memperhatikan dua hal ini: Pemilihan lagu dan Iringan. Para dirigen perlu tetap hati-hati memilih dan menentukan lagu supaya koor maupun dirigen umat di semua misa di wilayah Paroki BMV Katedral Bogor tetap selalu mengedepankan unsur liturgisnya. Beliau menggarisbawahi kebijakan Pastor Paroki bahwa buku Puji Syukur dan Madah Bakti tetap menjadi acuan utama. Lagu-lagu yang bukan berasal dari kedua sumber tersebut dan masih belum diterima sebagai lagu liturgi hendaknya didiskusikan dahulu dengan Tim Musik Liturgi Paroki atau Pastor Paroki. Demikian pula dengan iringan atau organ; para organis perlu menyadari bahwa ketika mereka mengiringi nyanyian dalam liturgi Gereja, mereka juga harus mengikuti aturan-aturan liturgi.

Pastor Paroki, RD Benyamin Sudarto, dalam pengarahannya antara lain juga menggarisbawahi apa yang disampaikan oleh Bapak Ketua Seksi Liturgi. Namun secara khusus beliau menekankan perlunya pemahaman bahwa nyanyian-nyanyian untuk Perayaan Ekaristi haruslah nyanyian-nyanyian liturgis yang bertujuan untuk membantu umat merayakan Ekaristi dengan lebih khusuk, khidmat dan sakral. Nyanyian-nyanyian rohani yang bukan merupakan nyanyian liturgi hendaknya tidak digunakan di dalamnya. Romo Ben menekankan bahwa tugas koor bukanlah untuk show atau menampilkan pertunjukan.

Selain itu, secara khusus Romo Ben menekankan arti pentingnya saat hening selama komuni. Saat komuni adalah saat perjumpaan umat dengan Kristus. Karena itu, hendaknya selama waktu komuni juga disediakan saat hening. Jangan sampai seluruh waktu dipenuhi oleh nyanyian-nyanyian. Lagu-lagu yang dinyanyikan selama komuni pun haruslah nyanyian-nyanyian yang membantu umat untuk berdoa, untuk merasakan kehadiran Kristus dalam dirinya dan untuk mengalami Kristus yang benar-benar merasuk dalam jiwa dan raga umat. Tidak boleh ada show atau pertunjukan selama komuni. Tidak boleh ada lagu-lagu yang terus-menerus menguasai saat-saat komuni. Adalah tugas kita bersama juga untuk mendidik umat agar mereka dapat mengalami perjumpaan dengan Kristus melalui saat-saat hening dan melalui lagu-lagu atau iringan selama waktu komuni.

Bapak Marhadi dari Tim Musik Liturgi subseksi Koor secara gamblang menjelaskan nyanyian-nyanyian yang harus dibawakan selama Masa Prapaskah dan Pekan Suci. Secara umum dapat dirangkum sebagai berikut:
  1. Rabu Abu: ini menjadi hari mulainya masa prapaskah. Berbagai pilihan lagu di Puji Syukur dan Madah Bakti mencirikan SESAL dan TOBAT. Hendaknya semua koor tetap mempersiapkan diri dan dapat membawakan nyanyian-nyanyian dengan khidmat.
  2. Minggu Palma: Ada dua bagian dalam perayaan minggu ini yaitu Upacara Pemberkatan Palma dan Perarakan Yesus memasuki kota Yerusalem dan Perayaan Ekaristi. Lagu-lagu selama pemberkatan palma dan perarakan memasuki gereja dapat bertemakan Kristus Raja. Namun ketika umat sudah memasuki gereja, lagu-lagu Perayaan Ekaristi bukan lagi bertemakan Kristus Raja melainkan lagu-lagu Prapaskah.
  3. Kamis Putih: Lagu-lagu hendaknya bertemakan kasih dan pelayanan sebagaimana Kristus memberikan teladan. Iringan hanya digunakan sampai lagu Kemuliaan. Setelah itu, tidak ada iringan organ. Organ dimainkan lagi pada saat lagu Kemuliaan pada Malam Paskah.
  4. Jumat Agung: Mengenang sengsara dan wafat Tuhan. Perlu disiapkan penyanyi pasio yang baik untuk Cronista dan Sinagoga. Peran Yesus diambil oleh Imam yang bertugas.
  5. Malam Paskah: Para solis perlu menyiapkan diri dengan baik dalam menyanyikan Mazmur Tanggapan dan lagu-lagu lain. Organ dibunyikan sejak Kemuliaan.
  6. Minggu Paskah: Puncak perayaan Ekaristi selama pekan suci. Yang perlu disiapkan secara khusus adalah lagu Victimae Paschali Laudes yang merupakan sekuensi.
Bapak Adrianus pada akhir pertemuan menggarisbawahi perlunya pemahaman yang benar akan tugas dan fungsi dirigen dan organis sehingga semua dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan benar. Pilihan lagu, iringan, sikap dan lain-lain hendaknya dilaksanakan dengan tetap mempertimbangkan umat yang dilayani dan liturgi yang diikuti.

Selain itu ada dalam acara tanya jawab juga muncul persoalan-persoalan. Secara garis besar ada beberapa kesepakatan:
  1. Lagu Bapak kami yang digunakan di Katedral BMV Bogor tetap dari TPE dan Puji Syukur. Jika ada versi lain, akan dikumpulkan teksnya dan akan dipelajari bersama oleh para dirigen dan organis pada saat yang ditentukan kemudian.
  2. Usulan lagu untuk tugas hendaknya dikonsultasikan dengan Pastor Paroki atau Tim Musik Liturgi dari Subseksi Koor. Untuk tugas pekan suci tahun 2011 ini hendaknya usulan itu sudah masuk paling tidak satu bulan sebelum bertugas.
Semoga para dirigen dan organis serta semua koor dapat menjalankan tugas dengan baik. Ad maiorem Dei gloriam.

Rabu, 02 Februari 2011

PERTEMUAN PDO-BMV JANUARI 2011

Menurut rencana, pertemuan Paguyuban Dirigen & Organis Paroki BMV Katedral Bogor pada bulan Januari akan diadakan pada Minggu 30 Januari sesuai jadwal. Namun karena pada hari dan jam yang sama seluruh ruangan digunakan oleh seksi-seksi dalam Dewan Pastoral Paroki, kegiatan pertemuan ini terpaksa dibatalkan. Pengurus PDO-BMV mohon maaf atas kegagalan pertemuan ini, dan kita berharap bahwa ada koordinasi yang baik di antara para seksi dan subseksi di dewan pastoral supaya tabrakan kegiatan dan penggunaan ruangan dapat dihindarkan.

Selasa, 14 Desember 2010

PERTEMUAN PDO-BMV NOVEMBER 2010

Pada hari Minggu 28 November 2010 diadakan pertemuan Paguyuban Dirigen dan Organis Paroki BMV Katedral Bogor. Pertemuan rutin ini diselenggarakan dalam rangka mempersiapkan para dirigen dan organis untuk tugas-tugas selama masa Adven dan Natal. Para peserta yang hadir lebih banyak melakukan sharing, mengajukan pertanyaan dan saran.

Ada beberapa hal yang perlu dicatat:
1. Para dirigen dan organis harus mempersiapkan diri dan koornya untuk tugas-tugas di dalam misa. Tugas di gereja tidak boleh menjadi semacam "latihan" belaka. Latihan dilakukan di luar liturgi. Apabila para dirigen dan organis belum yakin akan suatu pilihan lagu, pembawaan lagu, tata cara liturgi dan lain-lain, hendaknya yang bersangkutan berkonsultasi dengan seksi liturgi dan atau pastor yang bertugas. Seksi liturgi diminta menyiapkan teks-teks resmi Gereja tentang musik liturgi supaya para dirigen dan organis menjadi yakin akan tugas, kedudukan dan fungsi nyanyian liturgi serta tugas dan fungsinya sebagai dirigen maupun organis.

2. Mengingat pada tahun depan akan diadakan lagi misa dalam bahasa Latin dengan lagu-lagu gregorian, para dirigen dan organis juga perlu belajar. Seksi liturgi diminta mengadakan semacam pelatihan khusus lagu-lagu gregorian, serta menyediakan teks-teks lagu yang nantinya akan digunakan oleh petugas koor.

Pertemuan rutin bulan ini rupanya kurang diminati oleh para dirigen dan organis... Barangkali mereka berhalangan karena ada acara lain yang mendesak. Yang dapat hadir dalam pertemuan ini antara lain wakil-wakil dari Exultate, Koor BMV, Koor Mahasiswa IPB, Aeternum, St Caecilia, Wilayah Bogor Utara, Wanita Katholik, Dirigen Umat (Sdr Rina dan Bp Ludovikus), Lingkungan BSI, Lingkungan St Theresia dan lain-lain.

Senin, 22 November 2010

MISA BERBAHASA LATIN DENGAN LAGU-LAGU GREGORIAN DI KATEDRAL BMV BOGOR

Untuk pertama kalinya setelah hampir sekitar 45 tahun, diadakan misa dalam bahasa Latin dengan lagu-lagu gregorian di Katedral BMV Bogor pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, Minggu 21 November 2010 pukul 11.00-12.40. Misa dipersembahkan oleh RD Alfons Sebatu (menggantikan RD Yohanes Driyanto yang berhalangan karena ayahandanya meninggal dunia beberapa hari yang lalu). Koor yang bertugas adalah Koor BMV (koor paroki) Katedral Bogor dengan dirigen Bapak Tarcisius Marhadi dan organis Saudari Myrna Mihardja. Misa berlangsung lancar. Untuk umat disediakan teks misa dan terjemahannya. Karena ini pengalaman pertama, untuk beberapa bagian, koor (apalagi umat) memang belum dapat dengan lancar menyanyikan lagu-lagu proprium...

Ide untuk menyelenggarakan misa ini sebenarnya sudah lama... bertahun-tahun, namun karena banyak yang masih ragu-ragu, ide ini baru bisa dilaksanakan sekarang. Seksi Liturgi Paroki BMV Katedral di bawah arahan Pastor Paroki dan bantuan beberapa pastor di Seminari akhirnya dapat mewujudkan ide ini dengan niat yang baik, yaitu untuk merayakan sebuah Ekaristi yang agung, meriah dan khusuk sesuai pedoman Gereja Katholik Roma. Lewat perayaan ini Seksi Liturgi mengajak umat untuk belajar dan menyadari keagungan tradisi liturgi Gereja yang bertahan dua ribu tahun ini. Memang, selalu saja ada suara-suara sumbang dari sebagian orang... tetapi mungkin hal itu karena ketidaktahuan atau kesombongan sebagian kecil umat, namun secara umum umat di Paroki Katedral Bogor menyambut baik gagasan ini.

Dalam misa kemarin, sesuai kalender liturgi, kita merayakan Kristus Raja Semesta Alam. Lagu-lagu yang dinyanyikan antara lain: Dignus est Agnus, Dominabitur, Potestas Eius, Postula, dan Sedebit. Untuk ordinarium kita gunakan misa de Angelis (Misa VIII). Sebagai lagu penutup kita gunakan lagu Christus Vincit (refrennya bukan lagu gregorian, tetapi ayat-ayatnya khas gregorian).

Semoga apa yang telah dimulai ini dapat dilanjutkan pada kesempatan-kesempatan lain. Mengingat sulitnya lagu-lagu (terutama proprium), untuk saat ini tentu tidak mungkin menyelenggarakan misa dalam bahasa Latin dengan lagu-lagu gregorian setiap minggu atau setiap bulan... Seksi Liturgi Paroki BMV Katedral Bogor dan Pastor Paroki akan merancang penyelenggaraan misa seperti ini sesuai kemampuan umat dan koor-koor yang akan bertugas.

Jumat, 05 November 2010

Bagi teman-teman anggota PDO-BMV dan para Romo yang tertarik untuk *misa berbahasa latin*, Anda bisa menggunakan salah satu Tata Perayaan Ekaristi berikut:

1. Ordo Misae 2002 (Misa Paulus VI) edisi terakhir oleh YP-II
http://bukumisa. co.cc/orandi/ ordo-misae- 2002/
http://katolik. online.tripod. com/Ordo_ misa_2002. pdf
nb: ini adalah bahan baku pembuatan TPE 2005 (TPE Indonesia)

2. Ordo Misae 1962 (Misa Tridentine, Pius V) edisi terakhir oleh Yoh. XXIII
http://bukumisa. co.cc/orandi/ ordo-misae- 1962/
http://katolik. online.tripod. com/Ordo_ misa_1962. pdf

Kalau ingin belajar misa tridentin lebih lanjut, DVD bisa dipesan di
situs http://bukumisa. co.cc/orandi/ training- tridentine/ (free untuk
romo2 yang berminat)

"Melalui Liturgi, Kristus Penebus dan Imam Agung kita melanjutkan karya
penebusan-Nya di dalam Gereja-Nya, bersama dia dan oleh dia." (KGK 1069)

PERSIAPAN MISA DALAM BHS LATIN NOVEMBER 2010

Seksi Liturgi Paroki BMV Katedral Bogor berencana menyelenggarakan misa dalam bahasa Latin dengan lagu-lagu gregorian berbahasa Latin pada tanggal 21 November 2010 pukul 11.00 bertepatan dengan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam (Tahun C). Rencana ini sudah disetujui oleh Pastor Paroki dan saat ini tim kecil sedang bekerja untuk mempersiapkan semuanya. Tim ini dibimbing oleh RD Jatmiko, Rektor Seminari Menengah Stella Maris Bogor. Romo Rektor dipilih tim ini sebagai pembimbing karena beliau punya pengalaman menyelenggarakan misa berbahasa Latin bersama para seminaris setiap Rabu di Kapel Seminari. Untuk petugas koor, Seksi Liturgi telah menunjuk Koor BMV Paroki Katedral. Koor yang dilatih oleh Bapak Tarcisius Marhadi ini telah menyampaikan kesanggupannya dan telah mulai berlatih sejak Sabtu 30 Oktober yang lalu.

Rencana penyelenggaraan misa dalam bahasa Latin dengan nyanyian gregorian ini dimaksudkan untuk membantu umat merayakan Ekaristi dalam kesatuan dengan Gereja universal. Bahasa Latin telah dipilih oleh Gereja sebagai bahasa kesatuan, bahasa bersama dalam perayaan-perayaan Ekaristi. Demikian pula nyanyian-nyanyian Gregorian telah dipilih sebagai nyanyian-nyanyian liturgis yang resmi. Dengan menggunakan kedua unsur itu, kita ingin mengalami sebuah perayaan Ekaristi yang khas Katholik Roma. Kita juga ingin memperkenalkan apa yang baik dan luhur dalam Gereja Katholik Roma ini kepada sebagian besar umat dan lebih-lebih pada generasi muda dan anak-anak. Semoga rencana ini dapat terlaksana dengan baik.

PERTEMUAN PD0-BMV OKTOBER 2010

Minggu 31 Oktober 2010 yang lalu diadakan pertemuan Paguyuban Dirigen dan Organis Paroki BMV Katedral Bogor di Ruang Seksi Gedung Paroki. Pertemuan ini hanya dihadiri oleh sekitar 11 orang dan dihadiri oleh Wakil Ketua dan Sekretaris Dewan Pastoral Paroki. Pertemuan yang bertema "Mempersiapkan nyanyian-nyanyian Masa Adven" ini dipandu oleh Bapak Tarcisius Marhadi.

Ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi sehubungan dengan Liturgi Masa Adven:
  1. Masa Adven ditandai oleh suasana pengharapan dan kerinduan akan datangnya Sang Juruselamat. Kedatangan itu bisa kedatangan yang kita peringati dalam peristiwa Natal, dan kedatangan Tuhan di akhir jaman. Pengharapan dan kerinduan biasanya ditandai dengan keriangan, perasaan penuh harap dan antusiasme atau semangat. Karena itu, lagu-lagu masa Adven seharusnya lagu-lagu yang menunjukkan optimisme, semangat dan keriangan... sebuah suasana rindu untuk bertemu Tuhan. Menjadi kurang tepat bila lagu-lagu ibadat adalah lagu-lagu yang sedih, sendu dan tidak berpengharapan.
  2. Di buku-buku nyanyian seperti Puji Syukur dan Madah Bakti telah tersedia banyak lagu pilihan untuk Masa Adven. Semuanya liturgis. Yang menjadi masalah adalah bagaimana kita membawakan lagu-lagu tersebut secara benar sehingga menampakkan pengharapan, keceriaan dan kerinduan... Para dirigen harus dapat menciptakan suasana latihan yang menarik sehingga anggota paduan suara dapat menyanyi sesuai sifat khas lagu yang berpengharapan.
  3. Ada kenyataan bahwa banyak koor atau petugas liturgi yang kurang mempersiapkan Pemazmur dengan baik. Masih ada pemazmur yang sebenarnya belum layak menyanyikan mazmur di mimbar sabda. Para dirigen harus melatih para pemazmurnya agar dapat tampil dengan baik.
Dalam kesempatan pertemuan ini Bapak T. Marhadi melatih peserta untuk menyanyikan Mazmur Tanggapan masa Adven dengan baik. Peserta tampak antusias dan menggunakan kesempatan singkat ini untuk berlatih menyanyikan Mazmur Tanggapan.

Selasa, 21 September 2010

KONSER PADUAN SUARA EXULTATE IUSTI IN DOMINO 2010 (Jakarta)

Konser Syukur 3D (Tri Dasawarsa) P.S. Exsultate Justi In Domino Katedral Jakarta
"Power Of The Dream"

menampilkan

P.S. Exsultate Justi In Domino Katedral Jakarta
P.S. SD Katolik St. Mikael Kemayoran
Vocal Group dan Akustik PSKD Mandiri High School Menteng
P.S. SMK Katolik Strada I Gunung Sahari

Pengaba - Gregorio Victor Leo Oendoen

Pengiring - Adik Christians Hartono

Sabtu, 2 Oktober 2010
19.30 - selesai
Katedral St. Maria Diangkat ke Surga Jakarta



Konser Syukur Tri Dasawarsa "Power Of The Dream" adalah puncak dari rangkaian
acara ujud syukur 30 Tahun berdirinya Paduan Suara Exsultate Justi In Domino -
Katedral Jakarta.

Rangkaian ini diawali dengan Bakti Sosial Pendidikan Musik ke SD Katolik Melania
pada bulan Desember 2009, kemudian berlanjut dengan Workshop Vocal dan
Conducting pada bulan Februari di Katedral Jakarta yang diasuh oleh Joseph
Kristanto Pantioso (baritonist, Pendiri Sekolah Musik Musicasa) dan Rm. Antonius
Soetanta S.J. (Pengaba, Komposer, Organis, Pengarah Artistik P.S.A. Ascencio)
dengan melibatkan berbagai kelompok dan penggiat paduan suara di paroki Katedral
Jakarta. Acara ketiga, yang juga dilaksanakan di Katedral Jakarta pada bulan
Februari, berupa Seminar Paduan Suara dan Pendidikan Musik Usia Dini dengan
narasumber Paulus Wangga (Pengarah Artistik Hati Suci Children Choir) dan
Pancasona Aji (Pendidik Musik dan Pengarah Artistik PSM Universitas Sanata
Dharma Yogyakarta). Selain melibatkan sekolah-sekolah Katolik yang memiliki
ekstrakurikuler Paduan Suara, seminar ini pun dihadiri oleh para pendidik musik
sekolah tersebut.

Pada Konser Syukur kali ini Paduan Suara Exsultate Justi In Domino - Katedral
Jakarta tidak akan tampil sendiri. Untuk mewujudkan benang merah rangakaian ujud
syukur 30 Tahun ini, yaitu Paduan Suara dan Pendidikan, P.S. EJID menggandeng
kegiatan ekstrakurikuler berbasis paduan suara dari beberapa sekolah, yaitu P.S.
SD St. Mikael Kemayoran, Ansambel Musik PSKD Mandiri Menteng, dan P.S. SMK
Strada 1 Gunung Sahari. Ketiga kelompok tersebut, yang untuk penampilan kali ini
mendapat bimbingan langsung dari P.S. EJID, akan membawakan beberapa komposisi
populer yang telah diaransemen untuk Paduan Suara, seperti I Will Follow Him,
Sol Fa Calypso, Rebana, dll.

Secara khusus pada konser kali ini P.S. EJID dipercaya sebagai P.S. pertama yang
membawakan Cantate Domino gubahan komposer kontemporer asal Brasil, Fabio Solda.
Selain karya Solda yang lain, Te Deum, P.S. EJID pada konser kali ini juga akan
menampilkan beberapa karya John Rutter dan As A Hart Pants, oratorio kecil
gubahan komposer abad Romantik, Felix Mendellsohn-Bartholdy.

Bersama Konser Syukur Tri Dasawarsa "Power Of The Dream" P.S. EJID mengundang
kita semua untuk dapat merefleksikan dan menumbuhkembangkan kecintaan terhadap
dunia paduan suara, terutama melalui wahana gereja dan pendidikan.

Salam.
Bene Cantat Bis Orat.
Ad Maiorem Dei Gloriam.

Tiket Masuk GRATIS (dengan pemesanan)
Hubungi:
Ari ~ 0817-6953317
JC ~ 0818-08074641
Nindy ~ 0813-11308855



melvin manuel
jl. perwira no 99
darmaga bogor
0857-5984-4658

Jumat, 03 September 2010

REKOLEKSI SEKSI LITURGI PAROKI, LINGKUNGAN DAN WILAYAH + PRODIAKON

Sesuai rencana, pada Minggu 29 Agustus 2010 yang lalu diadakan rekoleksi khusus bagi para pengurus seksi liturgi lingkungan, wilayah dan paroki plus para prodiakon. Rekoleksi diadakan di kompleks Sekolah Marsudirini Telaga Kahuripan Parung, mulai pukul 8.30 hingga 16.30. Rekoleksi dibagi dalam dua sesi: sesi pertama dengan tema Ecclesia de Eucharitia bersama pembimbing RD. Benyamin Sudarto, dan sesi kedua dengan tema Ekaristi dari segi Hukum Gereja.

Sakramen Ekaristi
Ada banyak keprihatinan dalam ber-ekaristi: adanya sikap-sikap yang tidak pantas, sikap kurang persiapan batin, prasarana yang kurang berfungsi dengan benar dan lain-lain. Persoalan yang mendasar terletak pada kurangnya pemahaman umat akan Ekaristi. Maka jalan keluarnya adalah dengan adanya rekatekisasi tentang Ekaristi. Ini pun akan menghadapi kendala, yaitu adanya kesombongan rohani, sikap meremehkan, sok tahu, tidak mau belajar; intinya: orang tidak mau berubah...
Mengutip ajaran Ecclesia de Eucharistia, ada beberapa pokok yang perlu kita dalami:
  1. Kapan Ekaristi lahir?
  2. Dalam Ekaristi kurban salib Kristus senantiasa dihadirkan: Kristus yang sama, satu untuk selamanya; Tubuh-Nya sebagai santapan; Darah-Nya sebagai minuman; yang diulang adalah perayaan peringatan atau penghadiran peringatannya.
  3. Kristus mempersembahkan diri kepada Bapa; Kita mempersembahkan diri kepada Allah bersama persembahan Kristus di Salib. Ekaristi menjadi kebutuhan; sikap yang baik: Ya Tuhanku dan Allahku.
  4. Anamnese
  5. Ekaristi merupakan praecentia realis; terjadi transubstansi.
  6. Ekaristi menjadi daya penyelamatan.
  7. Lewat persatuan kita dengan tubuh dan darah-Nya, Kristus juga mencurahkan Roh-Nya.
  8. Ekaristi mengarah ke visi eskatologis
  9. Ekaristi merupakan secercah penampakan surga di atas bumi.
  10. Konsekuensi: mengemban perutusan membangun duni menjadi lebih manusiawi dan sesuai dengan rencana Allah, yaitu cinta yang terwujud nyata dalam hidup sehari-hari.
  11. Gereja terpangil untuk mempertahankan dan meningkatkan persekutuan dengn Allah dan sesama.
  12. Ekaristi: mengandaikan sudah ada persekutuan yang ingin dikukuhkan dan disempurnakan.
  13. Perlu persiapan diri dengan Sakramen Rekonsiliasi.
  14. Ekaristi dan pengakuan dosa sangat erat berhubungan.
  15. Perlu sikap batin yang pantas.
Ekaristi dan Hukum Gereja
Pada sesi kedua, RD Yohanes Driyanto memberikan wawasan tentang liturgi dan ekaristi dari sudut pandang Hukum Gereja.

Pilar Gereja Katholik:
Kitab Suci
Kitab Hukum Kanonik
Dokumen Konsili Vatikan II
Liturgi

Gereja memiliki tugas: mengajar, menguduskan (lewat liturgi) dan memerintah.
Lewat liturgi Kristus menguduskan umat-Nya melalui Gereja.
Liturgi Gereja Katolik tidak sekedar sebagai kebaktian. Liturgi, khususnya Liturgi Ekaristi, adalah pusat kehidupan Gereja Katholik; ia merupakan puncak dan sumber kehidupan; ia merupakan perayaan dan sekaligus sacramentum unitatis.

Selasa, 10 Agustus 2010

MUSIK LITURGI

Oleh: Romo Bernardus Boli Ujan SVD
(Diambil dari Katolisitas.org)

Pengantar

Berbicara tentang musik-liturgis, kita ingat akan nama-nama lain yang juga sering kita dengar seperti: musik-gereja, musik-rohani, musik-suci. Dalam rangka mengerti kekhasan musik liturgi baiklah lebih dahulu kita memahami arti dari istilah-istilah lain itu dan hubungannya dengan musik-liturgis.

Jenis Musik

“Musik-gereja” atau musica eccelsiastica adalah istilah yang digunakan oleh para pengikut Kristus atau Gereja ketika persekutuan beriman ini menyadari kekahasannya dalam mengekspresikan iman lewat musik terutama dalam ibadat atau liturgi. Istilah ini mengacu pada tatanan bunyi dengan melodi tertentu tanpa teks atau sesuai dengan bentuk teks yang mengungkapkan baik isi hati umat beriman maupun ajaran dan iman Gereja. Musik ini dapat dihasilkan dengan bantuan alat/instrumen atau/dan dengan suara penyanyi. Karena mengungkapkan iman yang diajarkan dan dihayati oleh umat beriman maka musik Gereja memiliki kekhasan dibandingkan dengan musik dari umat yang beragama lain meskipun dipengaruhi juga oleh musik agama lain misalnya dari musik orang Yahudi. Musik gereja pada umumnya adalah salah satu bentuk dari musik-religus atau musik-rohani.

Yang dimaksudkan dengan “musik-religius” (musica religiosa) atau “musik-rohani” adalah musik yang mengungkapkan atau mengandung tema-tema rohani. Musik atau lagu rohani ini dimiliki umat agama manapun. Bahkan ada tema musik-rohani yang umum diterima oleh umat manapun karena bersifat universal. Baik melodi maupun teksnya mengungkapkan pengalaman rohani yang diterima oleh orang beriman dari berbagai agama. Ketika suatu musik/lagu rohani mengungkapkan pengalaman khusus dari umat agama tertentu, maka ia menjadi musik/lagu yang khas misalnya lagu-rohani khas Yahudi atau khas Hindu dan Budha atau khas Kristen dan Islam. Musik-rohani itu jadi khas Kristiani bila mengungkapkan keyakinan iman akan Kristus Tuhan dan Penyelamat atau akan Tritunggal Mahakudus serta pokok iman lain yang diyakini orang Kristiani. Itulah yang kita namakan secara umum musik-gereja. Di dalam lingkup Gereja sendiri, musik-rohani dalam arti sempit berarti segala macam musik/lagu yang mengungkapkan pengalaman rohani khas Gereja tetapi tidak dimaksudkan untuk digunakan dalam perayaan-perayaan liturgis.

Ada juga istilah “musik-suci” (musica sacra) yang pernah dipakai oleh Gereja Katolik dalam arti segala macam musik-rohani atau musik-gereja yang digubah khusus untuk ibadat atau perayaan-perayaan liturgis. Kini istilah yang lebih populer adalah “musik-liturgis”. Karena itu sekedar untuk membedakan musik-suci dari musik-liturgis, menurut Gelineau (Voices and Instruments in Christian Worship: Principles, Laws, Applications, Collegeville: The Liturgical Press, 1964) musik-suci dalam arti tertentu mengacu pada semua macam musik yang inspirasinya atau maksud dan tujuan serta cara membawakannya mempunyai hubungan dengan iman Gereja. Lalu apa itu musik-liturgis dan ciri-cirinya?

Ciri-ciri Musik Liturgis

“Musik-liturgis” (khususnya melodi yg dihasilkan oleh alat-alat musik) dan “nyanyian-liturgis” (khususnya teks atau tindakan liturgis yang diberi melodi), dapat dilagukan dengan suara dan bunyi alat-alat musik sebagai pengiring. Baik teks maupun musik dengan melodinya yang secara khas mengekspresikan iman Gereja yang dirayakan dalam liturgi yaitu tentang apa yang dilakukan Allah (karya agung Allah yang menyelamatkan) dan tanggapan manusia beriman (syukur-pujian, sembah-sujud, dan permohonan).

Kita menggunakan istilah “musik-liturgis” dan bukan “musik dalam liturgi” karena dengan “musik-liturgis” mau digarisbawahi pandangan Gereja tentang musik sebagai bagian utuh dari perayaan liturgi dan bukan sebagai suatu unsur luar yang dicopot dan dimasukkan ke dalam perayaan liturgis seakan-akan suatu barang asing atau hal lain dari liturgi lalu diletakkan di tengah perayaan liturgi.

Sebagai bagian utuh dari liturgi, musik-liturgi itu merupakan doa dan bukan sekedar suatu ekspresi seni yang jadi bahan tontonan. Memang musik-liturgi itu mesti indah dan memenuhi persyaratan-persyaratan seni musik/nyanyian pada umumnya, namun lebih dari itu musik-liturgi mengungkapkan doa manusia beriman. Bahkan musik atau nyanyian-liturgis sebagai doa mempunyai nilai tinggi. Sebab musik-liturgi menggerakkan seluruh diri manusia yang menyanyi atau yang menggunakan alat-alat musik (budi, perasaan-hati, mata, telinga, suara, tangan atau kaki dll). Sekaligus demi harmoni dituntut kurban untuk meninggalkan diri sendiri dan menyesuaikan diri dengan orang lain, dengan tempat, dengan situasi, dengan maksud-tujuan musik/nyanyian liturgis yaitu demi Tuhan dan sesama. Ini memang cocok dengan hakekat dari liturgi sebagai perayaan bersama yang melibatkan banyak orang demi kepentingan umum (kemuliaan Tuhan dan keselamatan manusia, bukan hanya demi diri sendiri). Oleh karena itu Gereja mewarisi pandangan bahwa orang yang menyanyi dengan baik sebenarnya berdoa dua kali (si bene cantat bis orat). Sekali lagi, nilai yang tinggi itu tercapai kalau ada kurban dengan meninggalkan diri sendiri dan bersatu dengan yang lain dalam menyanyi atau bermusik demi kepentingan bersama.

Seni Musik Liturgis

Musik-liturgis sebagai karya seni (bukan tontonan atau pertunjukan) sebenarnya membantu kita semua sebagai peraya untuk mengarahkan seluruh diri kepada inti misteri yang dirayakan dalam liturgi yaitu kepada Tuhan sendiri sebagai sumber segala karya seni. Oleh karena itu cara-cara yang mengalihkan perhatian kita kepada hal lain atau kepada tokoh tertentu perlu diwaspadai. Bisa saja kita memilih seorang artis sebagai pemazmur atau penyanyi solo tetapi ketika ia menjalankan tugasnya tidak boleh ditonjolkan keartisannya, tetapi “fungsi liturgisnya”. Memberikan aplaus kepada si pemazmur atau solist karena suaranya yang bagus lebih merupakan bagian dari suatu acara panggung pertunjukan. Demikian juga pembawa homili yang memilih dan membawakan lagu yang sedang populer di tengah atau di akhir homili (karena ada kaitan dengan tema homili) yang langsung ditanggapi oleh umat dengan tepuk tangan meriah, perlu dipertimbangkan apakah hal seperti itu punya fungsi atau makna liturgis. Padahal ketika imam menyanyikan Prefasi atau Kisah Institusi dalam Doa Syukur Agung dengan suara yang bagus tidak diberi aplaus.

Pertimbangan yang sama dapat kita pakai untuk menilai kebiasaan koor menyanyikan semua lagu selama perayaan liturgis. Sebetulnya koor dengan dirigen yang bagus sungguh berfungsi liturgis kalau dapat membantu semua peraya yang lain untuk menyanyi bersama dengan lebih baik seperti atau mendekati cara koor menyanyi. Kalau dari awal sampai akhir semua nyanyian dibawakan hanya oleh koor, meskipun semuanya sangat mempesona, sebetulnya telah mengurangkan maknanya sebagai musik/nyanyian liturgis. Perlu ada suatu pembagian yang lebih seimbang dalam hal ini.

Proses Menjadi Musik Liturgis

Menerima musik-liturgis sebagai doa liturgis menuntut pula kesediaan setiap peraya atau kelompok peraya untuk menerima musik atau nyanyian yang sudah disepakati oleh Gereja untuk dipakai di dalam perayaan-perayaan liturgi. Musik/nyanyian yang ada di dalam buku-buku nyanyian yang diterbitkan dengan nihil obstat dan imprimatur pimpinan Gereja, dipandang sebagai musik-liturgis. Tentu melewati proses seleksi yang dibuat oleh orang-orang yang punya kemampuan dalam bidangnya hingga mendapat persetujuan dari pimpinan Gereja. Kesempatan terbuka bagi para komponis untuk mencipta lagu-lagu bagu yang lebih sesuai dengan rasa seni musik orang setempat, namun untuk dipakai sebagai musik/nyanyian liturgis perlu menempuh prosedur seleksi hingga mendapat pesetujuan resmi untuk dipakai dalam perayaan liturgi. Patut kita puji inisitip-inisitip untuk mencipta dan menemukan lagu-lagu baru yang lebih seusai dengan budaya setempat dan kebutuhan liturgis, misalanya dalam misa dengan “lagu-lagu alternatif”. Akan tetapi perlu kita waspadai kecenderungan menggunakan nyanyian-nyanyian baru itu tanpa peduli pada proses untuk “menjadi milik besama” dari Gereja, apalagi kalau yang jadi patokan utama adalah rasa suka, tertarik, tersentuh tanpa mengindahkan persyaratan liturgis.

Kadang terjadi bahwa kita memilih musik/nyanyian tertentu untuk perayaan liturgi karena sudah bosan dengan yang lama padahal yang baru itu belum tentu memenuhi persyaratan liturgis. Ini tantangan buat kita: merasa bosan dengan musik/nyanyian liturgis karena terus menerus menyanyikan yang sama (lama) atau merasa tidak tertarik, tidak suka, tidak tersentuh, tidak tergerak. Kita cendrung tersentuh dengan yang baru. Maka serta merta kita mencari dan membawakan musik/nyanyian baru dalam liturgi, tetapi tanpa pertimbangan atau seleksi. Dengan demikian dapat terjadi bahwa kita menggunakan musik/nyanyian yang sebenarnya tidak memenuhi persyaratan untuk perayaan liturgis.

Jadi bukan soal utama suka atau tidak suka, menarik atau tidak menarik, menyentuh atau tidak menyentuh, baru atau lama tetapi apakah telah menjadi “milik bersama” dari Gereja karena disepakati sebagai musik/nyanyian liturgis. Sebuah nyanyian atau musik diterima sebagai “milik bersama” bukan hanya karena telah dimasukkan ke dalam buku nyanyian resmi tetapi juga karena dilatih bersama, dinyanyikan bersama dan dipahami serta dihayati bersama maknanya dalam perayaan.

Musik-liturgis diterima atau diakui oleh Gereja sebagai miliknya, milik persekutuan demi kepentingan bersama (dikenal tradisi untuk tidak menulis si komponisnya dalam buku-buku resmi nyanyian-liturgis, tetapi nama mereka ditulis dalam catatan sejarah penyusunan buku). Perlu ada proses menjadikan musik-liturgis itu sebagai milik bersama. Dalam proses ini Gereja melihat betapa pelunya membuat latihan untuk menguasai dan menghayati musik/nyanyian bersama sebagai nyanyian dari hati, nayanyian yang mempengaruhi seluruh pribadi peraya. Jadi ada proses meninggalkan diri sendiri (rasa dan keinginan pribadi atu kelompok khusus) lalu menerima yang umum dan menjadikannya bagian atau milik pribadi demi kepentingan umum. Ini sebuah proses yang tidak gampang, karena yang menjadi tantangan adalah kecenderungan untuk mengutamakan rasa atau keinginan pribadi/kelompok khusus. Aspek personalnya lebih nampak dari pada aspek liturgis (yang umum). Kepentingan pribadi lebih menonjol dari pada kepentingan umum.

Untuk memenuhi persyaratan sebagai bagian utuh dari liturgi, musik-liturgi juga mesti berfungsi liturgis dalam arti baik teks maupun lagunya sesuai dengan unsur atau tindak liturgis dalam keseluruhan tata perayaan liturgis. Maka kita dapati nyanyian yang cocok untuk liturgi pembaptisan tetapi tidak sesuai untuk liturgi pernikahan. Nyanyian-liturgis untuk Ekaristi juga mesti sesuai dengan teks liturgi Ekaristi dan tindakan liturgis dalam unsur-unsur atau bagian-bagian tertentu dari liturgi Ekaristi. Sebuah lagu pembuka tentu tidak cocok untuk kesempatan seruan “kudus-kudus”, meskipun dari sudut kebenaran teks dan keindahan lagu tak ada cacat. Dalam hal ini tempat liturgis lagu pembuka itu tidak cocok atau nyanyian itu tidak mempunyai fungsi liturgis karena dinyanyikan pada saat “kudus kudus”.

Memilih Musik Liturgis

Perlu diketahui juga teks-teks liturgis mana saja yang dapat dinyanyikan (khususnya dalam liturgi Ekaristi). Ada teks-teks baku-tetap (antara lain Tuhan Kasihanilah Kami, Kemuliaan, Aku Percaya, Kudus-Kudus, Bapa Kami, Anak Domba Allah). Nyanyian ini disebut ordinarium. Ada juga teks-teks yang dapat berubah atau bervarisi rumusannya sesuai dengan perayaan pada hari bersangkutan dan disebut proprium (Antifon Pembuka atau Lagu Pembuka untuk mengiringi perarakan masuk, Mazmur Tanggapan untuk menanggapi Sabda Allah yang telah dimaklumkan, Alleluia-Bait Pengantar Injil untuk menyiapkan diri mendengarkan pemakluman Injil, Antifon Komuni atau Lagu Komuni selama atau sesudah komuni, Nyanyian Persiapan Persembahan untuk mengiringi perarakan bahan-bahan persembahan dan Lagu Penutup untuk mengiringi perarakan kembali). Teks-teks ini sangat kaya dan berhubungan erat dengan tindakan liturgis, unsur-unsur liturgis, tema perayaan, masa liturgis serta bacaan-bacaan dalam perayaan liturgi. Suatu hal yang patut dipuji adalah kebiasan menyanyikan Mazmur Tanggapan dan Alleluia-Bait Pengantar Injil dengan teks yang bervariasi sesuai dengan hari atau pestanya. Suatu hal yang perlu diperhatikan adalah lagu yang sesuai dengan teks-teks antifon (Pembuka dan Komuni) yang sebenarnya sangat kaya dan bervariasi serta biblis.

Dalam hubungan dengan teks-teks liturgi, terutama yang harus atau boleh dinyanyikan, diharapkan agar susunannya tepat serta mudah dan indah kalau dinyanyikan. Dalam hal ini lagu melayani teks dan bukan sebaliknya. Baiklah kita waspadai nyanyian-nyanyian yang mengorbankan ketepatan dan kebenaran iman demi mempertahankan suatu melodi. Misalnya lagu Bapa Kami Filipina, demi penyesuaian dengan melodinya diubahlah rumusan “jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga” menjadi “jadilah kehendak-Mu di bumi dan di surga”. Mengganti “seperti” dengan “dan” sebenarnya mengubah iman kita akan surga, bahwa di surga dan di bumi kehendak Tuhan tidak selalu terjadi. Padahal kita percaya bahwa kehendak Tuhan selalu terjadi di surga sedangkan di bumi tidak selalu terjadi karena ulah manusia yang suka melawan kehendak Tuhan, maka kita mohon agar kehendak Tuhan terjadi di bumi seperti di surga. Kalau prinsip “melodi melayani teks” diperhatikan, maka ketepatan dn kebenaran teks-teks liturgis juga dapat lebih dijamin.

Ditulis oleh: Romo Bernardus Boli Ujan SVD (Penulis adalah Sekretaris Eksekutif Komisi Liturgi KWI tahun 2002-2008)
Tulisan ini pernah dimuat sebagai artikel dalam Majalah Bulanan Kristiani INSPIRASI, Lentera Yang Membebaskan, No 24, Tahun II Agustus 2006, hlm 27-29.