Tampilkan postingan dengan label MUSIK LITURGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MUSIK LITURGI. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Maret 2012

Misa dalam Bahasa Latin dan Lagu-lagu Gregorian di Katedral BMV Bogor

Misa dalam bahasa Latin dan lagu-lagu Gregorian di Katedral BMV Bogor telah dilaksanakan beberapa kali sejak tahun 2010 yang lalu. Pada tahun 2010 ada satu kali misa yaitu pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam; tahun 2011 ada dua kali misa yaitu pada HR. Santa Maria Diangkat ke Surga, dan HR. Kristus Raja Semesta Alam; dan pada tahun 2012 ini direncanakan untuk diadakan sebanyak lima kali misa.

Pada Minggu 4 Maret 2012 yang lalu penyelenggaraan misa seperti itu telah dimulai lagi di Katedral. Misa ini bertepatan dengan Minggu Prapaskah II (Dominica II in Quadragesima). Perayaan Ekaristi dimulai pukul 11.00 dan dipersembahkan oleh Romo Dominiko Savio Tukiyo; sedangkan koor yang mengiringi adalah Koor Exultate. Secara umum perayaan Ekaristi berlangsung dengan lancar.

1 Pembuka G.R. Tibi Dixit

2 Kyrie PS. 339 Kyrie eleison

3 Mazmur Tanggapan G.S. Magna est Gloria eius

4 Bait Pengantar Injil G.S. Miserere nostri, Domine

5 Credo PS. 374 Credo

6 Doa Umat O.M. Domine, miserere

7 Persembahan G.R. Meditabor in Mandatis tuis

8 Prefasi O.M. Dominus Vobiscum

9 Sanctus PS. 385 Sanctus

10 Anamnesis G.R. Mysterium Christi

11 Doxologi O.M. Per ipsum, et cum ipso, et in ipso

12 Pater Noster PS. 403 Pater Noster (2)

13 Pemecahan Roti PS 406 Agnus Dei

14 Komuni 1 G.R. Visionem Quam Vidistis

15 Komuni 2 Teks Attende Domine

16 Madah Syukur L.O. 123 Iesu Nostra Redemptio

17 Pengutusan O.M. Ite, missa es; Deo gratias

18 Penutup PS. 626 Ave Regina Caelorum

Koor Exultate diiringi oleh Mbak Myrna (organis Koor Paroki BMV) dan juga dibantu oleh beberapa rekan dari Koor BMV Paroki. Semoga pengalaman Exultate berguna juga bagi banyak koor lainnya.

Senin, 04 Juli 2011

Kenalilah Organ Pipa (Orgel)

Diambil dari tulisan Anthonius Bobby @ http://katedral.keuskupan-malang.web.id

Kedudukan dan Fungsi Organ

“Alat Musik dapat menjadi sangat bermanfaat dalam perayaan-perayaan Kudus, entah untuk mengiringi nyanyian, entah untuk dimainkan sendiri sebagai Instrumental Tunggal” (IML 62). Organ pipa (ORGEL) hendaknya dijunjung tinggi sebagai ALAT MUSIK TRADISIONAL GEREJA LATIN; suaranya mampu menyemarakkan upacara-upacara ibadat secara mengagumkan, dan dengan mantap mengangkat hati umat ke hadapan ALLAH dan alam Surgawi. (IML 62, KL 120).

Status Organis

“…para organist atau pemain musik lain didalam ibadat bukan hanya semata-mata oranng yang bisa memainkan alat musik. Mereka hendaknya juga mengikuti perayaan liturgi dengan penuh kesadaran, sehingga setiap memainkan alat musiknya secara spontan, mereka memperkaya perayaan kudus selaras dengan hakikat asli masing-masing bagian, dan mendorong partisipasi kaum beriman.” (IML 67)

Seorang Organist memanjatkan doa-doa dan pengantar persembahannya dalam ibadat lewat permainan organnya yang baikLatihan dan persiapannya pun merupakan doa-persiapan untuk merayakan ibadat bersama umat di hadirat ALLAH. Maka, sebaiknya organist adalah seorang beriman yang ikut dalam perayaan liturgi; atau sekurang-kurangnya dapat memahami perayaan liturgi yang bersangkutan.

Mengenal Organ

Organ Pipa / Organ Tabung

Organ Pipa atau yang kita kenal dengan nama Orgel adalah Organ yang suaranya dihasilkan oleh tiupan pada mulut tabung (pipa). Ada 2 macam pipa mulut tabung:

  1. Pipa Labial ( Seruling recorder ), yakni pipa yang ujungnya kosong. Pada pipa labial suara yang dihasilkan oleh getaran udara pada ‘bibir’ pipa ( bahasa latin: labiai )
  2. Pipa Lingual ( Trompette, Fagotte, Brass ), yakni pipa yang ujungnya ( bagian yang ditiup ) dilengkapi dengan ‘lidah’ ( bahasa latin: lingual ). Pada saat pipa ditiup, lidah ini bergetar dan menghasilkan suara yang kemudian diperkeras oleh pipa.

Pipa Labial mempunyai variasi suara yang lebih kaya daripada pipa lingual. Suara pipa lingual lebih keras dan lebih kasar daripada pipa labial. Biasanya, pipa lingual digunakan untuk permainan instrumental solo, dan jarang untuk mengiringi nyanyian umat, kecuali pada kesempatan tertentu, bila semua register yang lain dinilai kurang keras.

Organ Elektronik

Sejak abad XX orang menemukan organ elektronik, yaitu organ yang dihasilkan dari getaran elektronis yang diperkeras melalui amplifier dan Loudspeaker. Banyak orang menganggap bahwa suara organ pipa (Orgel) lebih alami dan menyentuh perasaan peribadatan. Maka gereja-gereja di Eropa yang semula mencoba organ elektronik, sesudah beberapa waktu kembali menggunakan Organ Pipa.

ORGAN YANG COCOK UNTUK GEREJA

Organ untuk Gereja idealnya adalah Organ Pipa. Tetapi, di Indonesia organ pipa hanya terdapat di beberapa tempat ( Misal: Katedral Jakarta, Katedral Bandung, Gereja St. Yusup-Gedangan, Semarang, Katedral Larantuka, Katedral Surabaya => tinggal pipanya saja ). Itupun jarang dipakai karena tidak banyak organis yang terbiasa dengan Organ pipa tersebut. Di Katedral Jakarta lumayan banyak, Bandung juga banyak organis yang bisa mainin organ pipa, Gedangan ada..dari Jogja..Surabaya gak ada. Larantuka ada, dikit..Organ elektronik yang dibuat khusus untuk gereja belum banyak karena pemasarannya tidak mudah, dan harganya mahal. Di DKI Jakarta gereja-gereja kebanyakan sudah mempunyai organ elektronik semacam orgel. Bandung juga, Jogja, Malang ada 2 yang punya, yaitu Katedral Idjen dan Novisiat Frater BHK. Maka kebanyakan organ yang ada di gereja-gereja di Indonesia adalah organ pop, yang sebenarnya berbeda dengan organ gereja. Organ pop memiliki 2 papan-nada ( keyboard ) yang tidak lengkap: a) Keyboard atas f – c”’, keyboard bawah, F – c”; b) tombol-tombol irama otomatis; c) pedal 1 – 1 1/2 oktaf. Sedangkan organ yang cocok untuk gereja memiliki: a) Keyboard lengkap 4 – 5 Oktaf; b) Pedal satu oktaf ( disebut pedal Spanyol ) atau pedal 2 – 2 1/2 oktaf.

Organist


Amatlah disayangkan; banyak sekali organist Gereja..terutama Gereja Katolik kurang mengerti untuk mengiringi lagu-lagu Liturgi Ekaristi. Hanya mungkin sedikit yang mengerti. Dalam hal pembelajarannya mungkin tidak mengambil basic secara klasik misalkan piano, sehingga memainkan organ di gereja sama juga memainkan organ untuk musik sekuler misalnya lagu pop. Kebanyakan lagu-lagu Liturgi dimainkan secara monoton, karena kurang menguasai achord, maupun kelincahan pedal. Haruslah Organist mengerti dan mau belajar untuk lebih serius agar pembawaan Lagu-lagu Liturgi benar-benar bagus dan menyentuh hati umat beriman. Meskipun Koor kurang begitu baik, namun bisa ditutupi dengan kemahiran organist, sehingga suasana Missa Kudus tidaklah hambar dan pada saat umat telah menerima Rahmat perutusan diberikan oleh Imam Pastor, umat bisa pulang dengan hati gembira. Memang benar, permainan organ yang baik dan pemilihan register (warna suara organ) yang tepat bisa membawa hati tenang dan damai bagi umat beriman.

Selasa, 10 Agustus 2010

MUSIK LITURGI

Oleh: Romo Bernardus Boli Ujan SVD
(Diambil dari Katolisitas.org)

Pengantar

Berbicara tentang musik-liturgis, kita ingat akan nama-nama lain yang juga sering kita dengar seperti: musik-gereja, musik-rohani, musik-suci. Dalam rangka mengerti kekhasan musik liturgi baiklah lebih dahulu kita memahami arti dari istilah-istilah lain itu dan hubungannya dengan musik-liturgis.

Jenis Musik

“Musik-gereja” atau musica eccelsiastica adalah istilah yang digunakan oleh para pengikut Kristus atau Gereja ketika persekutuan beriman ini menyadari kekahasannya dalam mengekspresikan iman lewat musik terutama dalam ibadat atau liturgi. Istilah ini mengacu pada tatanan bunyi dengan melodi tertentu tanpa teks atau sesuai dengan bentuk teks yang mengungkapkan baik isi hati umat beriman maupun ajaran dan iman Gereja. Musik ini dapat dihasilkan dengan bantuan alat/instrumen atau/dan dengan suara penyanyi. Karena mengungkapkan iman yang diajarkan dan dihayati oleh umat beriman maka musik Gereja memiliki kekhasan dibandingkan dengan musik dari umat yang beragama lain meskipun dipengaruhi juga oleh musik agama lain misalnya dari musik orang Yahudi. Musik gereja pada umumnya adalah salah satu bentuk dari musik-religus atau musik-rohani.

Yang dimaksudkan dengan “musik-religius” (musica religiosa) atau “musik-rohani” adalah musik yang mengungkapkan atau mengandung tema-tema rohani. Musik atau lagu rohani ini dimiliki umat agama manapun. Bahkan ada tema musik-rohani yang umum diterima oleh umat manapun karena bersifat universal. Baik melodi maupun teksnya mengungkapkan pengalaman rohani yang diterima oleh orang beriman dari berbagai agama. Ketika suatu musik/lagu rohani mengungkapkan pengalaman khusus dari umat agama tertentu, maka ia menjadi musik/lagu yang khas misalnya lagu-rohani khas Yahudi atau khas Hindu dan Budha atau khas Kristen dan Islam. Musik-rohani itu jadi khas Kristiani bila mengungkapkan keyakinan iman akan Kristus Tuhan dan Penyelamat atau akan Tritunggal Mahakudus serta pokok iman lain yang diyakini orang Kristiani. Itulah yang kita namakan secara umum musik-gereja. Di dalam lingkup Gereja sendiri, musik-rohani dalam arti sempit berarti segala macam musik/lagu yang mengungkapkan pengalaman rohani khas Gereja tetapi tidak dimaksudkan untuk digunakan dalam perayaan-perayaan liturgis.

Ada juga istilah “musik-suci” (musica sacra) yang pernah dipakai oleh Gereja Katolik dalam arti segala macam musik-rohani atau musik-gereja yang digubah khusus untuk ibadat atau perayaan-perayaan liturgis. Kini istilah yang lebih populer adalah “musik-liturgis”. Karena itu sekedar untuk membedakan musik-suci dari musik-liturgis, menurut Gelineau (Voices and Instruments in Christian Worship: Principles, Laws, Applications, Collegeville: The Liturgical Press, 1964) musik-suci dalam arti tertentu mengacu pada semua macam musik yang inspirasinya atau maksud dan tujuan serta cara membawakannya mempunyai hubungan dengan iman Gereja. Lalu apa itu musik-liturgis dan ciri-cirinya?

Ciri-ciri Musik Liturgis

“Musik-liturgis” (khususnya melodi yg dihasilkan oleh alat-alat musik) dan “nyanyian-liturgis” (khususnya teks atau tindakan liturgis yang diberi melodi), dapat dilagukan dengan suara dan bunyi alat-alat musik sebagai pengiring. Baik teks maupun musik dengan melodinya yang secara khas mengekspresikan iman Gereja yang dirayakan dalam liturgi yaitu tentang apa yang dilakukan Allah (karya agung Allah yang menyelamatkan) dan tanggapan manusia beriman (syukur-pujian, sembah-sujud, dan permohonan).

Kita menggunakan istilah “musik-liturgis” dan bukan “musik dalam liturgi” karena dengan “musik-liturgis” mau digarisbawahi pandangan Gereja tentang musik sebagai bagian utuh dari perayaan liturgi dan bukan sebagai suatu unsur luar yang dicopot dan dimasukkan ke dalam perayaan liturgis seakan-akan suatu barang asing atau hal lain dari liturgi lalu diletakkan di tengah perayaan liturgi.

Sebagai bagian utuh dari liturgi, musik-liturgi itu merupakan doa dan bukan sekedar suatu ekspresi seni yang jadi bahan tontonan. Memang musik-liturgi itu mesti indah dan memenuhi persyaratan-persyaratan seni musik/nyanyian pada umumnya, namun lebih dari itu musik-liturgi mengungkapkan doa manusia beriman. Bahkan musik atau nyanyian-liturgis sebagai doa mempunyai nilai tinggi. Sebab musik-liturgi menggerakkan seluruh diri manusia yang menyanyi atau yang menggunakan alat-alat musik (budi, perasaan-hati, mata, telinga, suara, tangan atau kaki dll). Sekaligus demi harmoni dituntut kurban untuk meninggalkan diri sendiri dan menyesuaikan diri dengan orang lain, dengan tempat, dengan situasi, dengan maksud-tujuan musik/nyanyian liturgis yaitu demi Tuhan dan sesama. Ini memang cocok dengan hakekat dari liturgi sebagai perayaan bersama yang melibatkan banyak orang demi kepentingan umum (kemuliaan Tuhan dan keselamatan manusia, bukan hanya demi diri sendiri). Oleh karena itu Gereja mewarisi pandangan bahwa orang yang menyanyi dengan baik sebenarnya berdoa dua kali (si bene cantat bis orat). Sekali lagi, nilai yang tinggi itu tercapai kalau ada kurban dengan meninggalkan diri sendiri dan bersatu dengan yang lain dalam menyanyi atau bermusik demi kepentingan bersama.

Seni Musik Liturgis

Musik-liturgis sebagai karya seni (bukan tontonan atau pertunjukan) sebenarnya membantu kita semua sebagai peraya untuk mengarahkan seluruh diri kepada inti misteri yang dirayakan dalam liturgi yaitu kepada Tuhan sendiri sebagai sumber segala karya seni. Oleh karena itu cara-cara yang mengalihkan perhatian kita kepada hal lain atau kepada tokoh tertentu perlu diwaspadai. Bisa saja kita memilih seorang artis sebagai pemazmur atau penyanyi solo tetapi ketika ia menjalankan tugasnya tidak boleh ditonjolkan keartisannya, tetapi “fungsi liturgisnya”. Memberikan aplaus kepada si pemazmur atau solist karena suaranya yang bagus lebih merupakan bagian dari suatu acara panggung pertunjukan. Demikian juga pembawa homili yang memilih dan membawakan lagu yang sedang populer di tengah atau di akhir homili (karena ada kaitan dengan tema homili) yang langsung ditanggapi oleh umat dengan tepuk tangan meriah, perlu dipertimbangkan apakah hal seperti itu punya fungsi atau makna liturgis. Padahal ketika imam menyanyikan Prefasi atau Kisah Institusi dalam Doa Syukur Agung dengan suara yang bagus tidak diberi aplaus.

Pertimbangan yang sama dapat kita pakai untuk menilai kebiasaan koor menyanyikan semua lagu selama perayaan liturgis. Sebetulnya koor dengan dirigen yang bagus sungguh berfungsi liturgis kalau dapat membantu semua peraya yang lain untuk menyanyi bersama dengan lebih baik seperti atau mendekati cara koor menyanyi. Kalau dari awal sampai akhir semua nyanyian dibawakan hanya oleh koor, meskipun semuanya sangat mempesona, sebetulnya telah mengurangkan maknanya sebagai musik/nyanyian liturgis. Perlu ada suatu pembagian yang lebih seimbang dalam hal ini.

Proses Menjadi Musik Liturgis

Menerima musik-liturgis sebagai doa liturgis menuntut pula kesediaan setiap peraya atau kelompok peraya untuk menerima musik atau nyanyian yang sudah disepakati oleh Gereja untuk dipakai di dalam perayaan-perayaan liturgi. Musik/nyanyian yang ada di dalam buku-buku nyanyian yang diterbitkan dengan nihil obstat dan imprimatur pimpinan Gereja, dipandang sebagai musik-liturgis. Tentu melewati proses seleksi yang dibuat oleh orang-orang yang punya kemampuan dalam bidangnya hingga mendapat persetujuan dari pimpinan Gereja. Kesempatan terbuka bagi para komponis untuk mencipta lagu-lagu bagu yang lebih sesuai dengan rasa seni musik orang setempat, namun untuk dipakai sebagai musik/nyanyian liturgis perlu menempuh prosedur seleksi hingga mendapat pesetujuan resmi untuk dipakai dalam perayaan liturgi. Patut kita puji inisitip-inisitip untuk mencipta dan menemukan lagu-lagu baru yang lebih seusai dengan budaya setempat dan kebutuhan liturgis, misalanya dalam misa dengan “lagu-lagu alternatif”. Akan tetapi perlu kita waspadai kecenderungan menggunakan nyanyian-nyanyian baru itu tanpa peduli pada proses untuk “menjadi milik besama” dari Gereja, apalagi kalau yang jadi patokan utama adalah rasa suka, tertarik, tersentuh tanpa mengindahkan persyaratan liturgis.

Kadang terjadi bahwa kita memilih musik/nyanyian tertentu untuk perayaan liturgi karena sudah bosan dengan yang lama padahal yang baru itu belum tentu memenuhi persyaratan liturgis. Ini tantangan buat kita: merasa bosan dengan musik/nyanyian liturgis karena terus menerus menyanyikan yang sama (lama) atau merasa tidak tertarik, tidak suka, tidak tersentuh, tidak tergerak. Kita cendrung tersentuh dengan yang baru. Maka serta merta kita mencari dan membawakan musik/nyanyian baru dalam liturgi, tetapi tanpa pertimbangan atau seleksi. Dengan demikian dapat terjadi bahwa kita menggunakan musik/nyanyian yang sebenarnya tidak memenuhi persyaratan untuk perayaan liturgis.

Jadi bukan soal utama suka atau tidak suka, menarik atau tidak menarik, menyentuh atau tidak menyentuh, baru atau lama tetapi apakah telah menjadi “milik bersama” dari Gereja karena disepakati sebagai musik/nyanyian liturgis. Sebuah nyanyian atau musik diterima sebagai “milik bersama” bukan hanya karena telah dimasukkan ke dalam buku nyanyian resmi tetapi juga karena dilatih bersama, dinyanyikan bersama dan dipahami serta dihayati bersama maknanya dalam perayaan.

Musik-liturgis diterima atau diakui oleh Gereja sebagai miliknya, milik persekutuan demi kepentingan bersama (dikenal tradisi untuk tidak menulis si komponisnya dalam buku-buku resmi nyanyian-liturgis, tetapi nama mereka ditulis dalam catatan sejarah penyusunan buku). Perlu ada proses menjadikan musik-liturgis itu sebagai milik bersama. Dalam proses ini Gereja melihat betapa pelunya membuat latihan untuk menguasai dan menghayati musik/nyanyian bersama sebagai nyanyian dari hati, nayanyian yang mempengaruhi seluruh pribadi peraya. Jadi ada proses meninggalkan diri sendiri (rasa dan keinginan pribadi atu kelompok khusus) lalu menerima yang umum dan menjadikannya bagian atau milik pribadi demi kepentingan umum. Ini sebuah proses yang tidak gampang, karena yang menjadi tantangan adalah kecenderungan untuk mengutamakan rasa atau keinginan pribadi/kelompok khusus. Aspek personalnya lebih nampak dari pada aspek liturgis (yang umum). Kepentingan pribadi lebih menonjol dari pada kepentingan umum.

Untuk memenuhi persyaratan sebagai bagian utuh dari liturgi, musik-liturgi juga mesti berfungsi liturgis dalam arti baik teks maupun lagunya sesuai dengan unsur atau tindak liturgis dalam keseluruhan tata perayaan liturgis. Maka kita dapati nyanyian yang cocok untuk liturgi pembaptisan tetapi tidak sesuai untuk liturgi pernikahan. Nyanyian-liturgis untuk Ekaristi juga mesti sesuai dengan teks liturgi Ekaristi dan tindakan liturgis dalam unsur-unsur atau bagian-bagian tertentu dari liturgi Ekaristi. Sebuah lagu pembuka tentu tidak cocok untuk kesempatan seruan “kudus-kudus”, meskipun dari sudut kebenaran teks dan keindahan lagu tak ada cacat. Dalam hal ini tempat liturgis lagu pembuka itu tidak cocok atau nyanyian itu tidak mempunyai fungsi liturgis karena dinyanyikan pada saat “kudus kudus”.

Memilih Musik Liturgis

Perlu diketahui juga teks-teks liturgis mana saja yang dapat dinyanyikan (khususnya dalam liturgi Ekaristi). Ada teks-teks baku-tetap (antara lain Tuhan Kasihanilah Kami, Kemuliaan, Aku Percaya, Kudus-Kudus, Bapa Kami, Anak Domba Allah). Nyanyian ini disebut ordinarium. Ada juga teks-teks yang dapat berubah atau bervarisi rumusannya sesuai dengan perayaan pada hari bersangkutan dan disebut proprium (Antifon Pembuka atau Lagu Pembuka untuk mengiringi perarakan masuk, Mazmur Tanggapan untuk menanggapi Sabda Allah yang telah dimaklumkan, Alleluia-Bait Pengantar Injil untuk menyiapkan diri mendengarkan pemakluman Injil, Antifon Komuni atau Lagu Komuni selama atau sesudah komuni, Nyanyian Persiapan Persembahan untuk mengiringi perarakan bahan-bahan persembahan dan Lagu Penutup untuk mengiringi perarakan kembali). Teks-teks ini sangat kaya dan berhubungan erat dengan tindakan liturgis, unsur-unsur liturgis, tema perayaan, masa liturgis serta bacaan-bacaan dalam perayaan liturgi. Suatu hal yang patut dipuji adalah kebiasan menyanyikan Mazmur Tanggapan dan Alleluia-Bait Pengantar Injil dengan teks yang bervariasi sesuai dengan hari atau pestanya. Suatu hal yang perlu diperhatikan adalah lagu yang sesuai dengan teks-teks antifon (Pembuka dan Komuni) yang sebenarnya sangat kaya dan bervariasi serta biblis.

Dalam hubungan dengan teks-teks liturgi, terutama yang harus atau boleh dinyanyikan, diharapkan agar susunannya tepat serta mudah dan indah kalau dinyanyikan. Dalam hal ini lagu melayani teks dan bukan sebaliknya. Baiklah kita waspadai nyanyian-nyanyian yang mengorbankan ketepatan dan kebenaran iman demi mempertahankan suatu melodi. Misalnya lagu Bapa Kami Filipina, demi penyesuaian dengan melodinya diubahlah rumusan “jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga” menjadi “jadilah kehendak-Mu di bumi dan di surga”. Mengganti “seperti” dengan “dan” sebenarnya mengubah iman kita akan surga, bahwa di surga dan di bumi kehendak Tuhan tidak selalu terjadi. Padahal kita percaya bahwa kehendak Tuhan selalu terjadi di surga sedangkan di bumi tidak selalu terjadi karena ulah manusia yang suka melawan kehendak Tuhan, maka kita mohon agar kehendak Tuhan terjadi di bumi seperti di surga. Kalau prinsip “melodi melayani teks” diperhatikan, maka ketepatan dn kebenaran teks-teks liturgis juga dapat lebih dijamin.

Ditulis oleh: Romo Bernardus Boli Ujan SVD (Penulis adalah Sekretaris Eksekutif Komisi Liturgi KWI tahun 2002-2008)
Tulisan ini pernah dimuat sebagai artikel dalam Majalah Bulanan Kristiani INSPIRASI, Lentera Yang Membebaskan, No 24, Tahun II Agustus 2006, hlm 27-29.

Sabtu, 03 April 2010

LITURGI (1)

Ini adalah komentar beberapa orang Katholik tentang LITURGI KATHOLIK (khususnya Perayaan Ekaristi atau Misa):
  1. Misa membosankan
  2. Lagu-lagu misa tidak menarik
  3. Khotbah membosankan
  4. Khotbah membuat ngantuk
  5. Lagu-lagunya kuno
  6. Tidak ada inovasi
... dan beribu komentar lainnya.

Karena itu, di banyak gereja muncul eksperimen-eksperimen atau mereka sebut sebagai inovasi atau reformasi atau pembaharuan. Lalu muncul fenomena baru... Misalnya:
  1. Lagu-lagu tidak lagi diambil dari buku-buku resmi seperti Puji Syukur atau Madah Bakti, melainkan dari karya mereka sendiri atau dari lagu-lagu pop rohani atau dari lagu-lagu milik gereja lain (non-Katholik).
  2. Alat-alat musik pun ditambahkan atau diganti: sekarang ada gitar, drum, piano, dan sebagainya.

Kalau kita amati, perubahan menonjol di banyak gereja memang lebih banyak kelihatan pada musiknya... pada lagu-lagu dan berbagai hal yang berhubungan dengan musik liturginya. Niat "baik" mereka pun mirip: ingin menciptakan misa yang meriah, yang hingar bingar, yang "modern", yang lagu-lagunya enak di telinga, yang bisa "menyentuh hati" dan sebagainya. Perubahan-perubahan itu akhirnya membuat misa tidak lebih sebagai suatu kebaktian biasa... mirip dengan kebaktian-kebaktian yang dilakukan oleh gereja-gereja non-Katholik.

Orang-orang awam terbelah pemikirannya: ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. Yang setuju mengatakan: "Ya... Gereja Katholik harus menyesuaikan diri dengan selera umatnya yang makin modern..." Yang tidak setuju berpendapat: "Liturgi adalah sesuatu yang tidak boleh diubah semau-maunya."

Apa yang dapat kita katakan tentang LITURGI KATHOLIK untuk menanggapi komentar itu? Ternyata tidak mudah menjelaskan persoalan ini. Bahkan kita masih sering menjumpai banyak imam atau pastor yang tidak dapat menjelaskan hal ini dengan baik... masih banyak imam atau pastor yang justru mengantar umatnya merayakan liturgi keluar dari ketentuan-ketentuan yang ada dalam Gereja Katholik.

Namun yang pasti, sudah ada Pedoman Umum Misale Romawi, ada Konstitusi tentang Liturgi, ada dogma-dogma dan pedoman-pedoman lain yang dimiliki Gereja Katholik yang intinya ingin mengatakan bahwa LITURGI dalam GEREJA KATHOLIK bukan merupakan kebaktian biasa... LITURGI KATHOLIK adalah SUMBER DAN PUNCAK KEHIDUPAN GEREJA KATHOLIK. Dalam LITURGI KATHOLIK, yang berpuncak dalam PERAYAAN EKARISTI, Allah hadir...

Karena itu, Perayaan Ekaristi atau Misa adalah PERAYAAN KEHADIRAN ALLAH, bukan sekedar merayakan kehadiran umatNya. Kegiatan-kegiatan dalam liturgi, misalnya memilih dan menyanyikan lagu-lagu iringannya, adalah kegiatan-kegiatan untuk MENYENANGKAN ALLAH dan bukan menyenangkan hati umat. Karena itu, lagu-lagu liturgi harus bersumber dari ALKITAB dan sumber-sumber lain yang diakui Gereja. Warna musik pun harus secara khusus untuk kepentingan liturgi, bukan warna pop, dangdut, atau jazz yang berfungsi sebagai musik hiburan... Karena itu, seharusnya semua memahami bahwa lagu-lagu rohani yang pada umumnya hanya cocok untuk menghibur diri tidak boleh digunakan dalam Perayaan Ekaristi atau Misa.

Dalam Gereja Katholik, musik dan lagu-lagu Gregorian mendapat tempat yang paling tinggi dari semua jenis musik dan lagu. Kata-kata dalam lagu-lagu Gregorian pada umumnya dari Kitab Suci dan musiknya pun diciptakan secara khusus untuk kepentingan liturgi. Ribuan tahun musik itu sudah digunaan dan memang menjadi ciri khas Katholik. Seyogyanya semua paroki di seluruh dunia menaruh perhatian yang besar pada pengembangan musik Gregorian ini. Di bawah itu ada lagu-lagu polifoni kuno, polifoni modern, lagu-lagu inkulturasi dan lain-lain yang memang secara khusus dirancang untuk kepentingan liturgi dan kata-katanya bersumber dari Kitab Suci.

Semua koor di Paroki BMV Katedral Bogor diharapkan untuk memahami, memilih dan menyanyikan lagu-lagu liturgi yang sesuai demi lebih agungnya, lebih semaraknya dan lebih tinggi mutunya liturgi kita. Tuhan membimbing kita.